IMAN KEPADA HARI AKHIR

 


Hari kemudian atau akherat akan menjadi masa pengadilan bagi umat manusia. Semua yang dilakukan manusia semasa kehidupannya dimuka bumi akan dihisab. Hasil hisab inilah yang kemudian menjadi bahan penilaian atas apa yang akan ia dapatkan dalam masa akherat kelak. Artinya amal manusia di dunia inilah yang akan menentukan apa yang akan terjadi pada dirinya di akherat kelak. Tak satupun perbuatan yang lepas dari perhitungannya.  Tak satu perhitunganpun yang tak mendapat balasannya. Masa pengadilan ini menjadi masa yang tak bisa dihindari oleh satu umat manusiapun. Kekuasaan Allah SWT akan menunjukan bahwa keadilan yang berjalan adalah keadilan yang tidak dapat dihindari oleh manusia, bahkan hasilnya tak bisa dikompromikan seperti keadilan yang ada di dunia ini.

Kehidupan akherat yang merupakan kehidupan “pasca sejarah” kemanusiaan juga menjadi logis dan amat adil, mengingat keadilan tidak selalu terwujud dalam setiap saat bagi seseorang atau suatu masyarakat di dunia. Pada kenyataannya bahkan amat banyak orang yang didzalimi di muka bumi ini. Mereka yang berbuat dzalim pun tidak selalu sempat mendapat ganjaran yang setimpal. Bahkan banyak orang yang berbuat kebathilan justru beroleh “ketenaran” dalam sejarah dunia.

Islam sangat menekankan umatnya yakin akan keberadaan akherat, karena dengan keyakinan ini umatnya tetap berjalan dalam kehidupan yang berorientasi tujuan pada akherat. Al Qur’an juga berulang kali menyatakan bahwa kehidupan yang sesungguhnya adalah di akherat. Kehidupan manusia di dunia, diibaratkan permainan, atau sementara, serta jauh lebih rendah tingkatannya. Akan tetapi kehidupan dunia itu harus dilalui manusia lengkap dengan cobaan dan ujian yang menjadi penentu kehidupan di akherat. Segala sesuatu yang diperbuat ada imbalannya di akherat, sehingga manusia tidak boleh berputus asa ketika menjalani beratnya kehidupan didunia. Berputus asa adalah sikap ingkar atas ketetapan Allah akan akherat dan janji Allah yang tidak membebani makhluknya melebihi kemampuannya.

Konsekuensinya kehidupan di dunia bukanlah sesuatu yang harus ditinggalkan. Manusia harus berusaha mendapatkan apa yang harus ia dapatkan, bahkan Allah memperkenankan manusia untuk beroleh kebahagiaan darinya. Kebahagiaan itu sudah barang tentu menurut tolak ukur ajaran Islam, bukan menurut materialisme atau faham-faham yang lain. Betapapun, nabi Muhammad SAW mencontohkan beberapa hal yang secara manusiawi dapat dianggap sebagai kesenangan, seperti halnya kecintaan kepada keluarga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEHIDUPAN SOSIAL DALAM ISLAM

UNTUK KAMU CALON PENDAMPING HIDUP

BUMI PERKEMAHAN RAIMUNA DAERAH