KEHIDUPAN SOSIAL DALAM ISLAM
Tiap tiap sistem keyakinan atau derivasinya
memiliki cara pandang tentang dimensi private dan publik manusia yang berbeda-beda. Ada yang meyakini aspek individu manusialah yang utama (primer). Anggapan
ini menyebabkan munculnya keserakahan seorang sekelompok orang yang berujung
pada eksploitasi atas orang lain. Di sisi lain, ada yang menekankan keutamaan
aspek sosial, pandangan ini menyebabkan diabaikanya kepentingan pribadi
(individu). Bahkan keyakinan ini menyebabkan kediktatoran sebagai cara paling
mudah untuk menekankan keinginan individual.
Islam memandang bahwa kemasyarakatan merupakan ciri kemanusiaan
yang tak dapat dipisahkan dari kepribadian manusia. Karakter dan jiwa
kemasyarakatan bukan sesuatu yang baru tumbuh setelah manusia berinteraksi
dengan orang lain, melainkan sudah ada sejak manusia diciptakan. Dengan
demikian, Islam memandang bahwa seorang manusia memiliki hak-hak pribadi yang
harus dihormati. Individu yang bersangkutan juga bertanggung jawab untuk
memenuhi kepentingannya, baik yang bersifat material untuk kebahagiaan di dunia
hingga yang menyangkut keselamatan dan kebahagiaannya di akhirat. Namun, pada
saat yang sama manusia bertanggung jawab mewujudkan kepentingan bersama.
Kematian sosial biasanya dimulai dan ditandai oleh sebuah sikap
saling tidak peduli satu dengan yang lainnya yang kemudian menjadi suatu
kewajaran dalam sistem masyarakat. Inilah awal kematian sosial. Sikap saling
tidak peduli akan memperbanyak orang yang menindas diantara sesamanya. Pada
awalnya penindasan cuma sebuah noktah ditengah lautan, namun ketidakpedulian
membuatnya menjadi samudera kehidupan, ketidak pedulian membuat penindasan
menjadi sistem masyarakat. Tak ada lagi yang mampu mencegahnya kecuali
kehancuran masyarakat itu sendiri.
Allah SWT mengecam sikap-sikap yang melemahkan jiwa kemasyarakatan.
Sikap seperti ini disetarakan dengan “kemurtadan”. Allah SWT akan menghapus
kehormatan, bahkan eksistensi suatu masyarakat itu lalu menggantikannya dengan
kaum yang baru. Kaum baru ini adalah kaum yang dicintai dan mencintai Allah
SWT, bersikap lemah lembut terhadap orang beriman, bersikap tegas terhadap
orang-orang kafir, berjihad dijalan Allah dan tidak takut terhadap celaan para
pencela.
Kaum baru ini memiliki jiwa yang kuat, memiliki inspirasi sosial
untuk melahirkan karya peradaban. Kaum baru ini adalah kaum yang hidup atas
dasar konsep tauhid yang hanya dapat dikembangkan oleh diri-diri yang
bertaqwa. Inilah yang disebut dengan masyarakat yang “hidup”. Masyarakat ini
tidak memiliki penyakit sosial yang bernama ketidakpedulian diantara sesamanya.
Sikap saling menjaga akan mencegah penindasan meluas karya peradaban umat terus
terlahirkan.
Komentar
Posting Komentar